Pengertian Sociopreneurship dan Technopreneurship

Sociopreneur dan Technopreneur Indonesia – Sociopreneurship adalah proses terbentuknya badan usaha baru berdasarkan misi sosial dan lebih mengutamakan misi sosial tersebut dibandingkan memperoleh keuntungan pribadi dari pembuka usaha. Pelaku dari sociopreneurship disebut sociopreneur. Karena keuntungan badan usaha tersebut akan digunakan sebagai dana misi sosial atau bahkan sebagian besar diberikan pada sang karyawan sebagai bagian dari misi sosial tersebut.

Dalam dunia technopreneurship, Anda pasti mengenal Steve Jobs, Bill Gates, Duo Google; Page dan Brin serta pemuda terkaya dunia, Mark Zuckerberg. Ada satu persamaan dari ketiganya, yang membuat mereka sukses menjadi entrepreneur kelas dunia. Mereka mampu mengidentifikasi permasalahan teknologi, kebutuhan serta kebutuhan masyarakat dan merancang terobosan baru yang lebih canggih, meski berapa pihak ragu akan inovasi yang mereka buat.

Dasar atau ide peluang usaha

Kedua jenis entrepreneurship tersebut memiliki dua perbedaan dasar pemikiran yang akan diwujudkan menjadi usaha. Perbedaan tersebut antara lain:

  • Fondasi dasar sociopreneurship adalah misi sosial yang diwujudkan dalam berbagai jenis usaha.
  • Sedangkan technopreneurship baik dasar dan wujud usaha yang dilakukan adalah berdasarkan pemanfaatan teknologi

Keuntungan yang didapat

Sedangkan berdasarkan keuntungan yang didapat, ada perbedaan diantara keduanya. Karena berdasarkan misi sosial, umumnya sociopreneurship tidak banyak mengambil keuntungan. Misalnya bank berbunga rendah yang diprakarsai oleh sociopreneur peraih nobel Muhammad Yunus.

sociopreneur
Muhammad Yunus, peraih nobel dan seorang sociopreneur

Keuntungan yang didapat oleh pelaku technopreneurship sangat besar, dilatari oleh kebutuhan masyarakat akan beberapa produk teknologi seperti komputer, handphone, hingga peralatan rumah tangga dengan teknologi canggih. Contohnya adalah technopreneur dunia dan co-founder Facebook yang pada tahun 2015 lalu mendapat keuntungan bersih sebesar $17,928,000 (data diambil dari: Facebook, Inc. (FB) Income Statement – NASDAQ.com)

Pelaku Sociopreneurship Indonesia

Ir. Ciputra, Bapak Entrepreneur Indonesia

Semua pasti setuju jika Ir. Ciputra adalah sociopreneur Indonesia yang paling kenyang makan asam garam. Pria asal Surabaya ini dikenal bukan hanya jumlah aset kekayaan yang ditaksir $1 milyar, aktivitas sosial dan edukasi miliknya dengan misi memberi pendidikan kewirausahaan pada pemuda dan pemudi Indonesia-lah yang membuat pria kelahiran Parigi ini dikenal banyak orang.

tokoh sociopreneur indonesia
Tokoh Sociopreneur Indonesia: Ciputra

Tekadnya untuk membangun Indonesia melalui entrepreneurship terlihat kuat dengan dibangunnya Ciputra University di Surabaya, universitas tersebut terkenal akan kurikulumnya yang mengedepankan pengetahuan untuk menghasilkan calon pengusaha tangguh dan inovatif pembawa perubahan

Dian Wahdini Syarif Pendiri Yayasan Syamsi Dhuha

tokoh sociopreneur indonesia
Penerimaan hadiah Sasakawa health award oleh pendiri yayasan Syamsi Dhuha

Srikandi sosiopreneur dari Bandung ini mendirikan yayasan non-profit Syamsi Dhuha untuk membantu mereka yang terserang penyakit lupus secara finansial dan juga memberi dukungan moral. Bandung Kongres Lupus International memberikan penghargaan Lifetime Achievement Award. Tidak hanya penghargaan dari Kongres Lupus Internasional, pada tahun 2012 lalu, WHO memberikan yayasan ini penghargaan Sasakawa Health Prize (SHP) 2012 di Jenewa, Swiss.

Aditha Sri Pradakusuma

Aditha adalah aktor dibalik berkembangnya budidaya dan membuat usaha pakan lele Gunung Kidul, Yogyakarta. Dengan usaha Aditha ini, pemerintah mempercayakan APBD untuk pabrik pakan lele. Usahanya selain mengembangkan budidaya lele secara produktivitas, juga mampu membawa dampak positif dengan meningkatnya pendapatan peternak lele yang dibinanya tersebut.

Pelaku Technopreneurship dan Sociopreneurship Indonesia

Pelaku Technopreneurship Sukses Indonesia

Nadiem Makariem CEO dan Co-founder GoJek!

Nadiem Makarim secara tidak langsung menahbiskan dirinya sebagai technopreneur Indonesia paling fenomenal dan berpengaruh. Dengan perusahaan ojek online yang kini memiliki karyawan dan driver hampir sepuluh ribu personel ini terus mengembangkan usahanya. Mulai dari ojek online, pesan antar makanan serta belanjaan, hingga jasa pijat yang bisa dipesan online.

Nadiem sendiri bukan pelaku baru technopreneurship Indonesia. Pria yang juga alumni Harvard Bussiness School ini juga merupakan co-founder Zalora dan menjadi  Chief Innovation officer kartuku. Nadiem akhirnya keluar dan membangun gurita perusahaannya sendiri yang kontroversial serta sukses, Gojek!

Pendiri dan CEO Bukalapak Achmad Zaky

Achmad Zaky, Pendiri dan CEO Bukalapak ini bukan technopreneur biasa. Pria lulusan ITB Bandung ini dicatat sebagai 10 pengusaha muda berusia di bawah 30 tahun paling berpengaruh di Asia Tenggara. Bukalapak menjadi sorotan karena mall online ini mampu membangkitkan UKM online shop nasional dan terus tumbuh secara eksponensial pertahunnya.

Achmad Zaky tumbuh dengan keinginan memiliki pekerjaan yang baik dari dorongan keluarga lelaki berkacamata ini. Tapi Zaky akhirnya ia terjun ke dunia startup dan mendirikan Bukalapak setelah sebelumnya gagal membuka usaha warung mie. Bukalapak sendiri bukan senjata utama Zaky, Bukalapak dimaksudkan untuk menjadi produk portofolio untuk ditunjukkan kepada klien, hingga kini menjadi salah satu online shop terbesar Indonesia.

Technopreneur Indonesia, Muda dan Inovatif

Benson E. Kawengian, CEO Urbanhire

Urbanhire merupakan startup technopreneurship yang bergerak di bidang perekrutan karyawan secara online. Urbanhire menyediakan layanan berupa custom career page, pembuatan job boards, review calon pelamar,serta jadwal interview calon karyawan dengan mudah.

Didasari oleh kenyataan sulitnya calon pekerja mendapatkan pekerjaan yang pas dan perusahaan yang sulit mengakomodasi perekrutan calon karyawan, Benson dan kawan-kawan akhirnya mengembangkan aplikasi hiring software yang telah diintegrasi dengan fitur yang telah disebutkan sebelumnya dan sekaligus sistem tracking.

Daniel Rannue, CEO TukangID

tukang.id atau TID merupakan startup aplikasi berbasis layanan kebutuhan rumah tangga misalnya perbaikan air conditioner (AC), pesan antar air mineral aqua galon dan tabung gas elpiji, hingga jasa cleaning service. TID adalah buah ide dari Danniel Rannue, seorang alumni fakultas kedokteran yang malah nyemplung di dunia technopreneurship.

tukang.id
Daniel Rannu, CEO Tukang.ID (Doc: Sindonews)

Rannu menyatakan bahwa dibangunnya TID terinspirasi dari kesuksesan GoJek! Namun, Rannu menyatakan bahwa bisnisnya ini masih memiliki peluang luas karena belum ada jasa pesan air galon, LPJ dan service AC online.

You May Also Like

About the Author: Lai Karomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *